Senin, 30 November 2009

TAWURAN ANTAR PELAJAR DI DKI JAKARTA

Tak dapat dipungkiri peristiwa tawuran pelajar di DKI Jakarta masih cukup tinggi. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Gangguan Sosial DKI Jakarta, pelajar SD, SMP, dan SMA, yang terlibat tawuran mencapai 0,08 persen atau sekitar 1.318 siswa dari total 1.647.835 siswa di DKI Jakarta. Bahkan, 26 siswa diantaranya meninggal dunia.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gerakan Nasional Peduli Antinarkoba, Tawuran, dan Anarkis (Genpenta), Amir Syam, menyatakan tawuran tidak hanya menimbulkan korban jiwa saja, melainkan banyak pelajar yang terpaksa harus dipenjara. Tawuran juga membawa dampak sosial yaitu meresahkan masyarakat dan menimbulkan kerugian material seperti rusaknya sejumlah fasilitas umum, mobil-mobil masyarakat dilempar batu, dan angkutan umum pun tidak luput menjadi sasaran.

Amir menjelaskan data tawuran di Jakarta dari tahun ke tahun cenderung meningkat. “Tetapi yang jelas Genpenta terus melakukan upaya rutin untuk mencegah tawuran baik antarpelajar maupun antarmasyarakat,” kata Amir usai bertemu dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto di Balaikota DKI, Jakarta, Kamis (12/2). Kendati demikian, Amir mengatakan selama tahun 2008, tawuran antarmasyarakat relatif menurun dibandingkan dengan tawuran antarpelajar dan mahasiswa tahun-tahun sebelumnya.

Karena itu, untuk terus menekan angka tawuran di DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggandeng Genpenta untuk melakukan penyuluhan dan sosialisasi bahaya tawuran, narkoba, dan tindakan anarkis di sekolah-sekolah. Dalam pertemuan tersebut, Pemprov DKI membuka pintu seluas-luasnya untuk membangun sinergi dengan Genpenta dalam rangka pemberantasan penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan tindakan anarkis secara khusus di kalangan pelajar. Pemprov DKI menyambut baik upaya yang dilakukan Genpenta seperti memberikan penyuluhan dan sosialisasi kepada sekolah-sekolah yang sering melakukan tawuran.

Dalam penyuluhan dan sosialisasi tersebut nantinya siswa akan diberitahu bahwa tawuran hanya mendatangkan kerugian bukan hanya dari pelajar saja, tetapi juga bagi masyarakat sekitarnya. Selain melakukan pendekatan ke pihak-pihak sekolah rawan tawuran, Amir menjelaskan, Genpenta juga melakukan pendekatan kepada organisasi karang taruna di seluruh wilayah DKI Jakarta. “Dari situlah kita melakukan upaya pendekatan kepada pelajar melalui sosialisasi dan penyuluhan,” ujar dia seraya mengatakan berdasarkan hasil pemetaannya bersama dengan Dinas Pendidikan DKI disimpulkan terdapat 137 sekolah rawan tawuran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar